Waktu proses bongkar barang hingga keluar pelabuhan (dwelling time) kegiatan impor di Pelabuhan Tanjung Priok rata-rata masih tertinggal dari Singapura dan Malaysia. Di pelabuhan yang terletak di Jakarta Utara tersebut, rata-rata Dwelling Time bulan lalu masih 5,5 hari. Angka ini masih jauh lebih lama bila dibandingkan dengan Port Klang, Malaysia.
 
Seorang pegawai Bea Cukai yang tidak mau disebutkan namanya menunjukan data bahwa dwelling time di Port Klang, Malaysia hanya membutuhkan waktu 2 hari, di Thailand 2-3 hari sedangkan di Singapura hanya 1 hari. “Kalau dibandingkan ketiga negara tadi, di ASEAN Indonesia paling tinggi,” katanya saat ditemui di Gedung Pusat Bea Cukai, Jakarta, Selasa (23/6/2015). Ia sendiri mengaku baru saja kembali dari studi banding di Singapura menjelaskan resep khusus mengapa dwelling time di negara itu relatif rendah.
 
Menurutnya sistem yang dilakukan Singapura dari mulai pre customs clearance, customs clearance hingga post customs clearance hampir sama juga dilakukan di Indonesia. Hanya saja ada perbedaan yang menyebabkan arus barang keluar lebih cepat di pelabuhan Singapura.
 
“Kalau saya lihat Singapura memiliki layanan fast trade di sini seperti INSW (Indonesia National Single Window) yang terdiri dari berbagai kumpulan lembaga dengan sistem informasi lebih cepat. Lartas (perizinan impor) sudah selesai semua di fast trade sementara tugas customs hanya clearance. Kalau di kita, bagian customs wajib melakukan cek kembali di lartas termasuk perizinan lain-lain misalnya impor baja, siapa importirnya lalu persetujuan impor seperti apa,” tuturnya, seperti dilansir detik.com.
 
Hal lain yang ditemukan di Singapura adalah tingginya tarif inap kontainer di pelabuhan. Jadi mau tidak mau importir harus segera mengeluarkan barang secepatnya dari pelabuhan. “Singapura di sana mereka numpuk kontainer di pelabuhan mahal, di luar sudah ada pergudangan yang mereka bangun,” cetusnya.


Share